Usrotun Hasanah

Guru Kelas VI SD Negeri 2 Garung Kabupaten Wonosobo....

Selengkapnya
Apakah Anda Pernah Mendapat THR dari Seorang Pemulung?
Mbah Pangat di emperan toko

Apakah Anda Pernah Mendapat THR dari Seorang Pemulung?

Membuka kembali catatan harianku

Wonosobo, 30 Juni 2017

Apakah Anda pernah mendapat THR dari seorang pemulung?

Kami pernah, dan ini adalah pelajaran hidup yang sangat berarti bagi keluarga kami.

Hari ini, sore menjelang maghrib, kami kedatangan tamu. Namanya Mbah Pangat, beliau seorang pemulung yang sudah kami kenal sejak kami pindah ke sini. Waktu itu, meski tidak setiap hari, namun beliau sering datang ke rumah kami sekedar mencari barang bekas di sekitar halaman yang memang waktu itu belum ada pagarnya. Tidak seperti kebanyakan pemulung, yang hanya mengorek-orek sampah, setelah menemukan barang yang dicari sampah ditinggalkan begitu saja. Namun Mbah Pangat sangat sopan, beliau selalu minta ijin masuk ke halaman rumah mencari barang bekas. Sehingga kami pun mengijinkan beliau memasuki halaman. Sampah pun dikembalikan ke tempatnya. Terkadang kami ikut mencari kardus bekas atau barang-barang yang masih ada di dalam rumah untuk diberikan kepada Mbah Pangat.

Selang beberapa bulan, halaman rumah kami pagar. Sejak saat itu, kami jarang melihat Mbah Pangat datang ke rumah. Hanya sesekali saat beliau melewati jalan depan rumah, dan kebetulan kami melihatnya, kami memanggilnya sekedar memberi tahu ada kardus bekas di rumah.

Lama sekali kami tidak mendengar kabar Mbah Pangat. Saya pernah menanyakan beliau kepada tetangganya. Kata tetangganya itu Mbah Pangat masih sehat dan masih merongsok. Dan ternyata benar, beberapa kali saya melihat Mbah Pangat di sekitar pasar induk.

Suatu siang, sepulang kerja saya bertemu Mbah Pangat, saya pun menyapa beliau dan memberi uang sekedar untuk membeli makan siang. "Oh, Sibu, tasih teng mriko daleme Bu?", beliau mencoba mengingat. "Nggih, Pak". Beliau pun mendoakan kami sekeluarga seperti biasanya. Setelah mengamini doa beliau saya pun pergi.

Hingga suatu hari, saya membaca berita di salah instagram yang saya ikuti. Betapa kaget hati saya membaca berita itu. Mbah Pangat seorang pemulung tidur di emperan ruko depan GKJ. Setahu saya, Mbah Pangat memiliki rumah dan tinggal bersama anaknya. Karena tidak yakin dengan berita itu, saya dan anak saya pun mencari tahu keberadaan Mbah Pangat. Sehabis sholat maghrib kami mencari Mbah pangat di emperan toko yang disebutkan dalam berita itu. Dan ternyata benar, betapa teririsnya hati kami melihatnya. Beliau di emperan toko itu, sedang tidur beralaskan karung plastik. Dengan hati-hati kami menyapanya, dan beliau bangun. Alhamdulillah, beliau masih mengingat kami. Tidak sabar, saya pun bertanya. Mengapa Mbah Pangat tidur di sini? Di manakah anak-anak beliau? Ternyata, beliau masih memiliki rumah. Beliau masih tinggal bersama anaknya. Alasan Mbah Pangat tidur di emperan toko, karena beliau harus bangun pagi-pagi supaya bisa mendapatkan barang bekas. Kalau siang harus berebut dengan pemulung lain. Beliau tidak akan mendapatkan apa-apa. Ya Allah, kasihan sekali Mbah Pangat. Sudah sepuh masih mencari nafkah untuk dirinya. Beliau tidak ingin merepotkan anaknya yang bekerja sebagai tukang sapu jalanan.

Dan....

Sore ini kami dikejutkan dengan kedatangan Mbah Pangat ke rumah. Beliau turun dari boncengan sepeda motor. Sepertinya ada yang mengantar. Oh, beliau diantar tetangganya. Mbah Pangat terlihat lebih bersih dibanding hari-hari kami bertemu dan menemuinya sebelumnya. Beliau membawa bingkisan. Saya pikir beliau dari pasar dan mampir ke rumah. Dengan wajah sangat gembira Mbah Pangat mengatakan kalau kemarin siang sudah ke rumah, namun rumah terkunci sehingga beliau pun pulang. Kami persilakan Mbah Pangat masuk dan duduk di ruang tamu. Beliau pun mulai cerita. Banyak sekali yang beliau katakan. Intinya, beliau datang ke rumah untuk bersilaturrahim. Mbah Pangat merasa pernah didatangi kami di emperan toko, kini saatnya beliau datang ke rumah kami. Dan yang membuat kami terharu. Bingkisan itu sengaja beliau bawa untuk kami. Lebaran banyak sekali yang memberi bingkisan kepada beliau. Sampai beliau bingung untuk apa. Dan beliau ingin berbagi dengan kami. MasyaAllah... Dan satu lagi, Mbah Pangat mengatakan mendapat THR uang sebesar Rp200.000,00 dari juragan rongsok. Beliau ingin, separuh uang itu untuk anak wedhok. Dipanggillah Yasmin Wulansari, diberinya uang Rp100.000,00. Padahal dalam keseharian beliau paling banyak memiliki uang Rp50.000,00. Seperti yang beliau katakan. Kami pun menolak pemberian itu dengan berbagai alasan. Namun Mbah Pangat bersikeras memaksa kami untuk menerimanya. Kata beliau, sudah diniati dari rumah. Dia mengatakan, uang ini bukan dari menjual rongsok, ini adalah rezeki dari Allah untuk kami melalui tangan beliau. Hiks.... beliau mengatakan hal yang sama yang biasa kami katakan saat beliau menolak pemberian kami.

Ya Allah, demi kebahagiaan beliau kami pun menerima pemberian beliau dengan 1001 macam perasaan. Azan maghrib berkumandang, Mbah Pangat pamit pulang setelah mendoakan keluarga kami. Kami pun mendoakan beliau. Semoga sehat selalu nggih Mbah...

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali