Usrotun Hasanah

Guru Kelas VI SD Negeri 2 Garung Kabupaten Wonosobo....

Selengkapnya
Menyanyikan lagu

"Bu Guru, Kula Krainan"

"Bu Guru, kula krainan." begitulah ucap W. Tanpa banyak tanya, saya langsung menyuruhnya masuk kelas, "Sudah sana masuk kelas!"

Hari ini hari pertama pelaksanaan latihan USBN tingkat kabupaten II. Salah satu siswa datang terlambat. Dia menemui saya di ruang guru. Saya melihat jam dinding menunjukkan pukul 08.05.

Saya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat perilakunya. Berbagai upaya telah kami lakukan supaya siswa tersebut bisa mengikuti pelajaran seperti teman-temannya. Namun upaya tersebut sepertinya belum menuai hasil.

Pukul 06.30 saya sudah sampai di sekolah. Melihat kedatangan saya, anak-anak langsung masuk kelas. Seperti biasa, saya mengecek kehadiran mereka. Kursi tampak penuh. Anak yang kemarin lusa sakit sudah kelihatan. Namun ada yang kurang. Si W belum kelihatan, "Mungkin sebentar lagi," pikir saya.

Pelajaran tambahan selama kurang lebih 45 menit berlalu. W belum datang juga. Rasa khawatir mulai menggelayut di hati. Pukul 7.15 pengawas ruang sudah siap dengan tugasnya. Anak-anak masuk ke ruang masing-masing. Saya menemui kepala sekolah, melaporkan si W tidak masuk. Sebenarnya saya disuruh menemui W di rumahnya. Namun, karena kepala sekolah ada kepentingan di kantor UPT, akhirnya beliau berkenan sekalian menemui anak itu.

Menurut kepala sekolah, saat beliau tiba di rumah W, dia baru saja bangun. Handuk masih menyelimuti badannya. Sepertinya dia baru akan mandi. Kepala sekolah menyuruhnya untuk datang ke sekolah mengikuti latihan USBN. W mandi, kepala.sekolah pun pergi.ke kantor. Selang beberapa menit W sampai di sekolah. Setelah memberi tahu saya, ia langsung masuk kelas.

Dalam satu minggu, pasti ada hari dia tidak masuk sekolah dengan berbagai alasan. Bangun kesiangan, baju sobek, sepatu rusak, tidak mengerjakan PR, dan lain-lain. Itu semua menjadi alasan rutin saat keesokan harinya saya tanya mengapa ia tidak masuk sekolah.

Menghadapi siswa semacam ini, membutuhkan kesabaran yang luar biasa. Bagaimana tidak? Upaya yang dilakukan sekolah tidak sepadan dengan upaya yang dilakukan orang tua di rumah. Bisa dimaklumi, latar belakang keluarganya memang tidak mendukung anak itu bisa tumbuh kembang dengan baik. Kendala ekonomi menjadi salah satu sebab. Perhatian orang tua kepada anak sangat kurang. Ayahnya sibuk mencari uang untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Sedangkan ibunya juga sibuk mengurus rumah dan adik-adiknya.

Beruntung dia mendapatkan bantuan pedidikan dari pemerintah. Melalui PIP dia mendapat bantuan sebesar Rp450.000,00. Bantuan tersebut sudah digunakan untuk kepentingan sekolahnya. Salah satu guru yang pernah menjadi wali kelas sebelumnya mengatakan bantuan yang dia terima seringkali tidak menutup kebutuhan sekolahnya. "Sekolah sering tombok," kata beliau.

Seandainya bantuan yang diberikan pemerintah maupun sekolah diimbangi dengan usaha si anak dan orang tua masih lumayan. Namun sepertinya si anak memang sudah ogah-ogahan mengikuti pendidikan di sekolah. Terbukti, dia pernah tidak naik kelas dua kali. Bukan karena lambat belajar, namun karena kemalasannya. Usianya yang lebih tua dibanding teman sekelasnya seringkali membuatnya menjadi "pengganggu" di kelas. Anak-anak yang sedianya serius mengikuti pelajaran, terpengaruh dengan kemalasannya.

Itulah beberapa kendala yang kami hadapi di sekolah. Terutama saya sebagai guru kelasnya. Namun saya tidak pernah menyerah. Setiap hari saya selalu menasihatinya. Dengan memberinya banyak motivasi, dia sudah tidak semalas dulu. Setidaknya mau mengikuti pelajaran dan tidak mengganggu temannya. Meskipun dalam satu minggu setidaknya satu hari dia membolos. Usaha lainnya yaitu doa. Semoga dia menjadi anak yang baik dan bisa mengubah kehidupan keluarganya. Mengingat dia anak laki-laki sulung dalam keluarganya.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Potret anak dgn masalah ekonomi keluarga ya bu? Di sekolah kami juga ada yang seperti W

17 Apr
Balas

Iya, Mbak. Saya berharap dia bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

17 Apr

Kisah inspiratif, semoga bermanfaat bagi guru lain dalam menyikapi berbagai bentuk kenakalan peserta didiknya secara bijak. Memang harus sabar, Bu. Mengajar dan mendidik itu seninya beribu bahkan berjuta ceritanya. Bila kita ikhlas semoga menjadi ladang amal yang kelak akan mendapat balasan dari Allah SWT. Amin YRA.

21 Apr
Balas

Aamiin. InsyaAllah, Bu. Terima kasih atas kunjungan Ibu.

21 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali