Usrotun Hasanah

Guru Kelas VI SD Negeri 2 Garung Kabupaten Wonosobo....

Selengkapnya
Imajinatif! Cerpen Karya Siswaku

Imajinatif! Cerpen Karya Siswaku "Kata Terakhir"

Judul : Kata Terakhir

Karya : Ibnu Abdul Ghani

Pagi yang indah, mentari mulai terbit dari ufuk timur. Seorang anak laki-laki 12 tahun memasuki sekolah sihir di Pulau Magic. Ken, namanya. Dengan tenang ia melangkahkan kakinya menuju sebuah ruangan. Di sana terlihat beberapa anak sebayanya tengah asyik bercengkerama. Entah apa yang mereka bicarakan. Ken tak peduli, tanpa menoleh sedikit pun kepada mereka, ia tetap berjalan hingga ia menemukan kursi kosong. Ia pun duduk.


Hari ini adalah hari pertama Ken masuk sekolah sihir. Namun, ia terlihat murung. Sebenarnya Ken tidak begitu menyukai sihir. Ia terpaksa masuk sekolah sihir dikarenakan adanya sebuah peraturan. Peraturan yang mengharuskan seluruh penghuni pulau menguasai sihir. Jika ia tidak bisa sihir, maka ia harus dibunuh atau diusir dari pulau.

"Hei, siapa kamu?" tanya seseorang yang baru saja masuk kelas.

Seorang laki-laki paruh baya itu mendekati Ken. Ken sedikit kaget mendengar suara itu. Ia sadar, pertanyaan itu ditujukan kepadanya. Ken pun berdiri, ia tatap laki-laki itu dengan tenang. Ken tidak terusik sedikit pun dengan penampilan aneh laki-laki itu. Ken tahu, laki-laki yang berdiri di depannya itu adalah salah satu guru di sekolah sihir.

"Aku Ken, rumahku di balik tembok perbatasan itu," jawab Ken sambil menunjuk sebuah tembok kokoh yang berdiri di seberang sekolah.

"Oke, selamat datang di sekolah ini, Ken!" ucap sang Guru.

"Ya, Pak," jawab Ken.

Sang Guru berlalu. Ia berjalan menuju mimbar di depan kelas. Suasana kelas menjadi hening, mengantarkan langkah kaki sang Guru.

"Aku benci sihir!" tiba-tiba Ken berkata dengan suara keras, hingga seisi kelas tercengang mendengarnya.

Seluruh mata tertuju kepada Ken, tak terkecuali sang Guru. Sang Guru pun menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya, tubuh yang sedikit bungkuk, ia paksakan untuk bisa berdiri tegak.

"Kenapa kamu benci sihir, Nak?" tanya sang Guru datar. Tak tampak sedikit pun kemarahan di raut wajahnya.

"Sihir bukan jiwaku, aku benci sihir!" kata Ken dengan nada tinggi.

Sang Guru tersenyum. Ia mendekati Ken dan berkata, "Tak apa, Nak. Awalnya memang begitu, aku yakin kamu akan menyukai sihir setelah belajar si sekolah ini."

Ken tertunduk, sang Guru menepuk bahunya hingga ia merasa tak berdaya untuk memberontak.

Sejenak Ken mengikuti pelajaran dengan saksama. Ia berusaha mencerna apa yang disampaikan sang Guru. Namun pada detik berikutnya, ia mulai terlihat bosan mendengar penjelasan gurunya. Pikirannya melayang, entah apa yang ia lamunkan. Ken benar-benar bosan di kelas itu.

Teng! Teng! Teng! Suara lonceng terdengar menggema ke seluruh sudut sekolah. Semua siswa keluar, namun Ken memilih tetap tinggal di kelas.

"Hai, Ken! Aku, Bob!" salah satu teman Ken menyapanya dengan ramah.

"Hai, Bob!" Ken membalasnya.
Bob pun duduk di samping Ken. Ken masih terlihat kaku saat Bob mengajaknya bicara.

"Ayo lah, Ken jangan bersedih! Teman-teman di sini akan membantumu jika kau merasa kesulitan," Bob berusaha menghibur teman barunya itu.
Namun Ken tak bergeming. Ia diam, Ia masih merasa asing dengan keramahan Bob.

"Terima kasih, Bob. Tapi tolong, biarkan aku sendiri," kata Ken.

"Baiklah," jawab Bob.
Bob mengerti, Ken ingin sendiri. Ia tidak ingin diganggu siapa pun. Bob pun beranjak dari tempat duduknya. Ia pergi meninggalkan Ken sendirian di kelas. Namun sebelum ia benar-benar keluar dari kelas, tiba-tiba Ken berkata, "Bob, maafkan aku! Bukannya aku tidak mau berteman denganmu. Tapi ...," Ken berusaha menjelaskan.


Bob tesenyum mendengar kata-kata Ken. Ia pun menjawab, "Tenang, Kawan. Aku mengerti," Bob memberi kode dengan menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya melingkar. Ken mengerti, Bob tidak marah dengan ucapannya.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Tak terasa, sudah satu tahun Ken berada di sekolah sihir. Ia mulai terbiasa dengan suasana di sekolahnya. Ia memang tidak menyukai sihir. Namun karena kebaikan teman-temannya, Ken masih bertahan di sana.

Bersambung ...

Bagaimana menurut Bapak/Ibu?

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Keren..bu untuk anak SD sdh bagus banget..

11 Apr
Balas

Iya, anaknya suka nulis cerpen. Kalimat yang ia tulis memang memang banyak yang tidak efektif. Itu sudah saya edit. Alur dan pesannya sangat jelas.

11 Apr
Balas

Harus disalurkan. Smp kls 7 kur 2013 ada materi cerita fantasi. Sdh mahir dia.

11 Apr
Balas

Iya, Bu. Di rumah dia suka nulis cerpen. Sayangnya banyak yang sudah disobek. Karena nulisnya iseng saat merasa bosan. Beberapa cerpen yang masih ada mau dikumpulkan.

11 Apr

Wah keren bu

11 Apr
Balas

Iya, Pak. Saya juga terpesona. Hehe..

11 Apr

Lanjutannya kapan bu ? Sudah penasaran ni Ceritanya menarik

11 Apr
Balas

Sabar ya, Nak. Masih ibu edit supaya enak dibaca.

11 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali