Usrotun Hasanah

Guru Kelas VI SD Negeri 2 Garung Kabupaten Wonosobo....

Selengkapnya
Menulis Cerpen, yuk!

Menulis Cerpen, yuk!

Mulai hari ini, siswa kelas 6 SD Negeri 2 Garung melaksanakan ujian praktik. Jadwal hari ini, praktik mata pelajaran Bahasa Indonesia. Salah satu aspek bahasa yang diujikan yaitu menulis. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, aspek menulis yang diujikan biasanya menulis ringkasan, menulis surat undangan, atau menulis parafrase. Menurut saya, keterampilan tersebut kurang menuntut anak untuk mengekplorasi kemampuannya dalam menulis. Terutama dalam mengembangkan imajinasinya. Hari ini, materi yang saya pilih yaitu menulis cerpen. Tema cerpen yang harus mereka tulis sangat sederhana, yaitu persahabatan. Saya memilih tema yang lekat dengan keseharian anak. Mereka pun tidak keberatan.

Setiap anak mendapatkan 2 lembar kertas folio bergaris. Cerpen yang harus mereka tulis minimal 1 halaman. Saya memulainya dengan menjelaskan langkah-langkah dalam menulis cerpen. Saya mengingatkan kembali bagaimana cara menulis sebuah paragraf, menulis paragraf padu, kalimat efektif, sampai penggunaan ejaan yang benar. Setelah mereka mengerti dengan penjelasan saya, mereka pun mulai menulis. Beberapa anak terlihat masih bingung. Mereka sepertinya belum menemukan ide. Saya mencoba memberi contoh cerita yang bisa mereka tulis. Pengalaman yang mengesankan bersama teman bisa menjadi gagasan dalam menulis. Latar cerita bebas, bisa di sekolah maupun di rumah. Mereka bisa mengembangkannya sesuai dengan imajinasi mereka sendiri.

Sepuluh menit berlalu, beberapa anak mulai asyik dengan tulisannya. Sesekali saya harus menjawab pertanyaan mereka. Saya mencoba berkeliling, mengintip apa yang mereka tulis. Hmm, ternyata ada anak yang sudah menulis 1 paragraf, paragraf perkenalan. Ketika saya tanya, mengapa tidak langsung menulis ceritanya saja. Dia menjawab, "Biar mudah, Bu." Oke lah, tidak mengapa.

Suasana kelas tampak hening. Anak-anak tenggelam dalam imajinasi mereka. Tidak ada anak yang berusaha mencontek temannya. Keadaan ini saya manfaatkan untuk pergi ke musala. Setelah berpamitan dengan anak-anak, saya menuju musala. Di sana telah menunggu seorang anak laki-laki kecil. Vansa, namanya. Siswa kelas 4 ini telah siap menerima bimbingan. Ia akan dikirim mengikuti lomba pidato hari Kamis minggu ini.

Sesekali saya melihat ke arah pintu ruang kelas 6. Sepi, sepertinya mereka masih asyik menulis. Tidak seperti biasanya, ketika diberi tugas mereka tidak akan betah lama-lama di kelas. Seringkali beberapa anak keluar kelas, sekadar cuci tangan, ke WC, atau menyerut pencil. Ada-ada saja alasan mereka supaya bisa keluar dari kelas.

Pukul 9 tepat bel berbunyi, waktu istirahat pertama telah tiba. Anak-anak berhamburan keluar dari kelas masing-masing. Tidak terkecuali anak-anak kelas 6 dan Vansa yang sejak tadi latihan pidato. Mereka bergegas pergi ke kantin, membeli jajan kesukaan mereka.


"Sudah selesai, Mas?" Saya bertanya kepada salah satu anak kelas 6 yang sedang membeli jajan.
"Belum, Bu. Baru dapat 3 paragraf," jawab anak itu.
"Tidak apa-apa, waktunya masih lama. Silakan lanjutkan setelah istirahat," lanjut saya.
"Ya, Bu." Anak itu pun berlalu.

Pukul 9.30 anak-anak kembali ke kelas masing-masing. Sebelum ke musala untuk melatih Vansa, saya masuk ke kelas 6. Beberapa siswa masih sibuk dengan jajanan di tangannya.

"Ayo, habiskan dulu jajan kalian!" Saya menyuruh mereka menghabiskan jajan mereka sebelum masuk ke kelas.
"Iya, Bu, " jawab mereka serentak.
Setelah menghabiskan jajan, mereka bergegas masuk ke kelas. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing.

"Anak-anak, sudah dapat berapa paragraf?" Saya tanya mereka penuh harap.
"Tiga!"
"Empat!"
"Banyaak!"
Mereka menjawab sesuai dengan tulisan masing-masing.


Saya kembali mengelilingi kelas. Satu-persatu saya lihat tulisan mereka. Ada seorang anak yang sudah menulis hampir satu halaman. Setelah saya baca, sepertinya tema yang ia tulis kurang sesuai. Mungkin instruksi yang saya berikan kurang jelas. Sebenarnya saya sudah menuliskannya di papan tulis. Ia menulis tentang pengalamannya mengikuti lomba, bukan tentang persahabatan.
"Mungkin tadi dia salah mengartikan penjelasan saya," pikir saya.

Meskipun tidak sesuai dengan tema yang telah ditentukan, namun saya tetap memberi semangat kepadanya.
"Tidak apa-apa, ceritamu bagus, tulisan kamu juga rapi. Ibu menyukainya," kata saya.

Anak itu pun tersenyum, mungkin ia merasa senang dengan pujian yang saya berikan.

Saya melanjutkan mengunjungi tempat duduk mereka. Satu persatu saya lihat tulisan mereka. Sebagian besar anak perempuan telah menyelesaikan hampir satu halaman. Tulisan mereka pun cenderung lebih rapi dibanding anak laki-laki. Meskipun tidak dipungkiri, ada anak laki-laki yang tulisannya juga rapi.

"Ternyata kalian pinter menulis cerpen semua ya, coba nanti di rumah kalian menulis cerita yang lainnya," saya mencoba memberi motivasi supaya anak-anak mau menulis di rumah.

"Cerpen kalian nanti bisa jadi buku kumpulan cerpen lho. Kumpulan cerpen hasil karya siswa kelas 6 SD Negeri 2 Garung."
Bebeapa anak tersenyum mendengar kata-kata saya.

Ya! Sudah lama saya bercita-cita bisa mengumpulkan cerpen hasil karya anak-anak. Tentu hal ini tidak mudah, namun bisa dicoba. Terbukti hari ini, mereka sangat antusias mengerjakan tugas. Hasilnya seperti apa? Tentu masih banyak kekurangan. Terutama dalam hal menulis dengan ejaan yang benar. Mereka masih membutuhkan bimbingan. Inilah tugas saya. Saya optimis, di antara mereka akan menghasilkan sebuah karya yang bagus dan berbobot. Mari kita buktikan!

Pukul 12.30, anak-anak telah menyelesaikan cerpen mereka. Satu-persatu mereka menyerahkan hasil karyanya di meja guru. Saya mulai melihat satu-persatu hasil tulisan mereka. Tiba-tiba saya terhenti pada sebuah cerpen berjudul "Kata Terakhir", ditulis oleh siswa laki-laki, Ibnu Abdul Ghani. Ia menulis tentang sihir di Negeri Magic. Ada pesan yang sangat jelas dalam cerita itu. Imajinatif! Anda penasaran dengan ceritanya? Tunggu tulisan saya berikutnya.


Wonosobo, 2 April 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Sama Bu... Saya juga sedang melaksanakan praktek ujian. Besok baru bahasa Indonesia. Rencananya saya juga mau memberi tugas menulis. Semoga sukses. Salam literasi

02 Apr
Balas

Iya, Bu. Alhamdulillah anak-anak sangat antusias. Semoga ke depan lebih termotivasi. Salam literasi.

02 Apr

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Iya Mas, terima kasih atas kunjungannya.

02 Apr

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Ini hasan bu

02 Apr
Balas

Iya bu tadi di sekolah asyik banget. Tidak ada yang rame seperti biasanya

02 Apr
Balas

Oke, kamu bisa berlatih menulis di rumah. Tulis apa saja yang ingin kamu tulis. Jangan berhenti menulis sampai apa yang kamu inginkan tertuang dalam tulisan. Setelah itu, kamu koreksi lagi. Kalimat mana yang tidak efektif? Penggunaan huruf kapital sudah benar apa belum? Tanda bacanya bagaimana? Semakin kamu sering berlatih, kamu semakin terampil dalam menulis. Ibu juga masih belajar.

02 Apr

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali